Jumat, 08 Mei 2015

ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) ASMA


ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) ASMA


http://www.top10homeremedies.com/wp-content/uploads/2012/11/asthma-big-ft.jpg

ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) ASMA


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Pengertian Asma
          Asma merupakan penyakit dengan karakteristik meningkatnya reaksi trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas dan derajatnya dapat berubah-ubah baik secara spontan maupun sebagai pengobatan (the american thoracts socity).
          Kata Asma berasal kata Yunani yang artinya yang terengah-engah dan berarti serangan nafas pendek, menunjukkan respon abnormal pada saluran nafas yang meluas, penyempitan jalan nafas ini disebabkan oleh bronkospasme, oedemamukosa dan hipersekresi mucus.

B.      Anatomi Fisiologi Sistem Pernapasan
1.      Anatomi sistem Pernapasan
a.      Hidung/naso/nasal : bangunan berongga yang terbagi oleh 1 septum di tengah kavum (kiri dan kanan). Didalam hidung terdapat sinus paranasal, sinus maksilaris, sinus frontalis, sinus ethmoidalis, sinus spenoidalis.
b.      Faring terbagi menjadi : naso faring, oro faring, laringgo faring.
c.      Larings (kotak suara), bukan hanya jalan udara dari faring kesaluran nafas lainnya, tapi juga menghasilkan sebagian besar suara yang untuk bicara dan bernyanyi.
d.      Trakea merupakan tabung terbuka, diameter 2,5 cm, panjang 10-12 cm. Meluas dari larings sampai ke puncak paru, tempat ia bercabang menjadi bronkus kiri dan kanan.
e.      Bronkus Trakea bercabang menjadi bronkus utama (primer) kiri dan kanan. Bronkus bercabang lagi menjadi bronkiolus (bronkioli). Bronkiolus bercabang-cabang lagi menj adi bronkiolus teruinalis dan bronkiolus espiratoarius.
f.       Paru-paru
         Terdiri dari gelembung-gelembung alveoli yang terdiri dari epitel dan endotel (kurang lebih 700.000.000 buah) unit fungsional paru adalah alveoli yang dikelilingi kapiler darah berkelompok mirip anggur. Paru-paru terbagi menjadi : paru-paru kanan (3 lobus) dan paru-paru kiri (2 lobus).Paru-paru dibungkus oleh selaput yang disebut pleura. Pleura viseral langsung membungkus paru-paru, pleura parietal melapisi rongga dada sebelah dalam.
2.      Fisiologi Pernapasan
         Pernapasan melalui paru-paru/eksterna, O2 diambil melalui mulut dan hidung pada waktu bernafas, dimana O2 masuk melalui trachea sampai alveoli berhubungan dengan darah dalam kapiler pulmonal, alveoli memisahkan O2 dari darah, O2 menembus membran, diambil oleh sel darah merah dibawa ke jantung dan dipompakan ke seluruh tubuh.
         Dalam paru paru CO2 hasil buangan menembus membran alveoli dari kapiler darah di keluarkan melalui pipa bronchus berakhir sampai mulut dan hidung.
a.      Aktifitas pernapasan ada 4 :     
(1)     Ventilasi
(2)     Difusi
(3)     Transportasi
(4)     Metabolisme jaringan
b.      Fisiologi pernapasan
(1)     Inspirasi : kontraksi pernapasan
          peningkatan thorax (ukuran)
          Tekanan intra thorax
          Ukuran paru – paru
          Tekanan intra pulmonal
          Tekanan udara atmosfer + alveoli.
(2)     Ekspirasi : relaksasi otot pernafasan
          Ukuran thorax
          Tekanan intra thorax
          Ukuran paru-paru
          Tekanan intra pulmonal
          Tekanan atmosfer, alveoli

C.      Patofisiologi
1.      Etiologi
a.      factor genetic
b.      biokimiawi
c.      imunologis
d.      infeksi saluran nafas
e.      psikologi
f.       lingkungan
g.      obat-obatan tertentu misalkan : aspirin
h.      aktivitas fisik yang berlebihan
Asma : alergan masuk maka
1.        Broncho konstruksi
2.        Inflamasi
3.        Hyper sekresi mulus
2.      Proses terjadinya asma
·               Respon akut saluran pernapasan terhadap masuknya antigen kontak dengan sel mast di dalam jalan nafas.
·               Mediator dilepaskan oleh sel mast akan membuka ikatan antar sel antigen dan masuk lebih lanjut dalam jaringan.
·               Antigen kontak dengan sel mast pada lapisan mukosa dan sub mukosa sehingga mediator dilepaskan lebih banyak.
·               Mediator yang dilepaskan menyebabkan :
-        peningkatan permeabilitass kapiler (edema)
-        peningkatan mukus
-        kontraksi otot secara langsung

3.      Manifestasi klinis :
          Dibagi dalam 3 stadium :
a.      Stadium I
         Edema dinding bronkus, batuk paroksimal, batuk kering, sputum kental dan menggumpal.
b.      stadium II
         sekresi bronkus banyak, batuk berdahak jernih dan berbusa, sesak nafas, retraksi suprasternal, epigastrium, anak membungkuk, gelisah, pucat, sianosis di sekitar mulut, toraks membungkuk kedepan dan intercostal
c.      stadium III
         obstruksi bronkus lebih berat, aliran udara sangat sedikit, batuk seperti ditekan, pemafasan dangkal, frekwensi nafas meningkat.

D.      Klasifikasi Asma
1.      Jenis asma menurut penyebabnya
a.      Asma alergik
         Dikarenakan allergen yang dikenal (misal : serbuk sari, binatang, emosi, makanan dan jamur).kebanyakan allergen terdapat di udara dan musiman. Anak dengan asma alergik sering dapat mengatasi kondisi sampai remaja.
b.      Asma Idiopatik atau Non alergi
         Tidak berhubungan dengan allergen spesifik. Faktor seperti comond cold, infeksi saluran nafas, latihan, emosi dapat mencetuskan serangan asma idropatik atau non alergi.
c.      Asma gabungan
         Paling umum dengan karakteristik dan batuk alergi maupun bentuk idiopatik.

2.      Jenis asma menurut serangannya
a.      Asma episodik yang jarang
(1)     Terdapat pada anak usia 3-6 tahu
(2)     Serangan dicetuskan oleh penyakit ISPA
(3)     Banyaknya serangan 3-4 kali batuk 10-14 hari
(4)     Merupakan 70-75% dari, populasi asma anak

b.      Asma episode sering
(1)     Terjadi setelah usia 3 tahun
(2)     Serangan berhubungan dengan ISPA
(3)     Umurnya 5-6 tahun terjadi infeksi tanpa serangan jelas
(4)     Banyak serangan 3-4 kali setahun
(5)     Paling tinggi terdapat pada usia 8-13 tahun
(6)     High fever ditemukan dalam golongan ini
c.      Asma kronik atau per sistem
(1)     25% serangan pertama umur 6 bulan dan 75% umur 3 tahun
(2)     Terdapat yang lama pada 2 tahun pertama
(3)     Umur 5-6 tahun terjadi obstruksi nafas yang per sistem, tiap hari.
(4)     Perlu perawatan di R.S
3.      Macam-macam pencetus asma
a.      allergen
          Bila tingkat hyper aktivitas bronkus tinggi, diperlukan jumlah allergen yang sedikit pada bayi dan anak kecil berhubungan dengan isi debu rumah, misal : tungau, serpihan atau bulu binatang, spora dan jamur.
b.      Infeksi
          (1)     Virus repiratory systytral (URS) dan virus para influenza
          (2)     Bakteri pertusis dan streptococcus tetanemofikulus,
          (3)     Jamur : aspergilus, parasit, askartisis
c.       Irritan
          (1)     Minyak wangi
          (2)     hair spray
          (3)     Udara Angin dan kering
          (4)     Asap rokok
d.      Cuaca
          (1)     Perubahan suhu
          (2)     Kelembapan
          (3)     Angin
e.      Kegiatan Jasmani
          (1).    Naik sepeda
          (2).    Berlari
f.       ISPA
(1)     Rhinitis alergi
(2)     Sinusitis akut & kronik
g.      Psikis
          Tidak boleh diabaikan dan sangat kompleks

E.      Komplikasi
1.      Status asmatikus
2.      Emfisema krpnic
3.      Capumonal dan gagal jantung kanan
4.      Atelektasis
5.      Pneumotoraks
6.      Kematian, gagal pernafasan
7.      Bronchitis kronik, bronkiolitis, pneumonia
8.      Toraks membungkuk dan memanjang

F.      Pemeriksaan Diagnostik
1.      Test laboratorium
a.      jumlah lekosit à meningkat pada infeksi
b.      Analisa gas darah (kasus berat)
c.      Jumlah eosinofil à meningkat dalam darah dan sputum
2.      Radiology
          Ro thorox : melihat infeksi atau penyebab lain yang memperburuk status pernafasan.
3.      Test fungsi paru
          Srometri : test fungsi volume paru, volume tidak menurun, kapasitas vital menurun, kapasitas bernafas bernafas maksimum juga menurun.
4.      Test tuberculin
5.      Test alergi

G.      Penatalaksanaan Medis
1.      Pengobatan
a.      Bronkodilator à aderalin, salbutamol, theophylin, aminopilin, atronent.
b.      Kortikosteroid à Prednison, oradexon, kenacort
c.      expectoran & antimucolitik à OBP, OBN, muropect,
d.      Antibiotik
e.      Imunotherapi à vitamin raboransia
2.      Fisiotherapi à clapping & vibrasi

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ASMA


A.      Pengkajian
1.      Pernapasan
a.      Nafas pendek
b.      Ekspirasi-whizing
c.      Retraksi
d.      Nafas cuping hidung
e.      Tachypnoe
f.       Batuk kering
g.      Ronchi
2.      Cardiovascular à tachycardia
3.      Neurologi : Cemas, kelelahan kurang tidur
4.      Integument : cyanosis, pucat

B.      Diagnosa keperawatan
1.      Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kontrisi dari bronkus.
          Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan, pertukaran gas kembali adekuat
          Kriteria hasil      :           
          -        Batuk berkurang
          -        Warna kulit kemerahan
          -        bunyi whizing berkurang sampai dengan hilang
          -        pengisian kapiler revil 3-5 detik
2.      Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan mukus
          Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan jalan nafas kembali efektif.
          Kriteria Hasil :
          -        peningkatan mukus berkurang sampai hilang
          -        jalan nafas kembali efektif
          -        RR dalam batas normal
3.      Kelelahan berhubungan dengan hypoxia
          Tujuan : Setelah dilakukan tindak keperawatan kelelahan pada anak tampak berkurang.
          Kriteria Hasil :
          -        tidak ada gejala stress pernapasan
          -        tidak ada gangguan tidur periodik
          -        meningkatnya aktivitas dan bertambahnya aktivitas.
4.      Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan perawatan di rumah
          Tujuan : anak dan orang tua dapat mengetahui tentang perawatan asma setelah di rumah.
          Kriteria Hasil : Perawatan di rumah dapat dilaksanakan sesuai instruksi

C.      Intervensi
1.      Diagnosa Keperawatan Nomor 1:
a.      Ajarkan pada anak dan orangtua untuk batuk efektif dan nafas dalam tiap dua jam.
b.      berikan chest fisioterapi 2x (pagi dan sore)
c.      kaji frekuensi pernapasan dan auskultasi suara nafas
d.      berikan anaka posisi yang nyaman seperti 1/2 duduk
e.      hindarkan faktor alergi dari ruangan anak
f.       kolaborasi dengan dokter untuk pemberian therapy bronchodilator dan steroid dan pemberian oksigen sesuai kebutuhan.
2.      Diagnosa Keperawatan Nomor 2:
a.      Berikan 02 dan kaji respon di stress pernafasan terhadap oksigen.
b.      Naikan bagian kepala tempat tidur
c.      Lakukan suntikan pada anak sesuai kebutuhan untuk mengangkat mukus di saluran nafas.
d.      jangan pernah menggunakan sedative pada anak dengan asma dan gawat pernapasan
e.      kolaborasi kaji respon terhadap bronkodilator aerosol dan agens radang yang diberikan.
3.      Diagnosa Keperawatan Nomor 3:
a.      Kaji tanda-tanda hypoxia termasuk peningkatan RR dan HR
b.      Berikan O2 sesuai kebutuhan
c.      Anjurkan pada anak/keluarga untuk istirahat yang cukup
d.      Berikan posisi supine dengan kepala 450
4.      Diagnosa Keperawatan Nomor 4 :
a.      Tingkatan pemahaman tentang asma
b.      Berikan instruksi yang spesifik tentang pengobatan dan efek sampingnya.
c.      Susun langkah-langkah dalam menangani episode asma akut dan kapan harus mencari bantuan perawatan medis darurat.
d.      Identifikasi pemicu asma dan bagaimana menghindarinya mengatasi atau mengendalikan.
e.      Ajarkan anak bagaimana memakai inhalasi
f.       Beritahu pada orangtua dan anak untuk menghindari pemberian anti histamin saat serangan.

Evaluasi
1.      Pada diagnosa gas berhubungan dengan kontriksi dari bronkus tujuan tercapai ditandai dengan konstruksi dari bronkus.
          Tujuan tercapai ditandai dengan : tidak batuk, warna kulit kemerahan , tidak ada whizing, refill kapiler 3-5 detik.
2.      Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan mukus.
          Tujuan tercapai ditandai dengan : tidak ada peningkatan mukus, jalan nafas efektif, RR normal.
3.      Kelelahan berhubungan dengan hypoxia.
          Tujuan tercapainya ditandai dengan : tidak ada gejala distress pernapasan, tidak ada gangguan tidur periodik, bertambahnya aktifitas.
4.      Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan perawatan di rumah.
          Tujuan tercapai, ditandai dengan perawatan di rumah dapat dilaksanakan sesuai instruksi.

DAFTAR PUSTAKA

Speer, Katleen, M (1999) Pediatric Care Planning, Third Edition, Pennysylvia ; Spring House.

0 komentar:

Posting Komentar