ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) ASMA
ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) ASMA |
BAB I
PENDAHULUAN
A. Pengertian Asma
Asma merupakan penyakit dengan
karakteristik meningkatnya reaksi trakea dan bronkus terhadap berbagai
rangsangan dan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas dan derajatnya dapat
berubah-ubah baik secara spontan maupun sebagai pengobatan (the american thoracts socity).
Kata Asma berasal kata Yunani yang
artinya yang terengah-engah dan berarti serangan nafas pendek, menunjukkan
respon abnormal pada saluran nafas yang meluas, penyempitan jalan nafas ini
disebabkan oleh bronkospasme, oedemamukosa dan hipersekresi mucus.
B. Anatomi Fisiologi Sistem Pernapasan
1. Anatomi sistem Pernapasan
a. Hidung/naso/nasal : bangunan
berongga yang terbagi oleh 1 septum di tengah kavum (kiri dan kanan). Didalam
hidung terdapat sinus paranasal, sinus maksilaris, sinus frontalis, sinus
ethmoidalis, sinus spenoidalis.
b. Faring terbagi menjadi
: naso faring, oro faring, laringgo faring.
c. Larings (kotak suara),
bukan hanya jalan udara dari faring kesaluran nafas lainnya, tapi juga
menghasilkan sebagian besar suara yang untuk bicara dan bernyanyi.
d. Trakea merupakan tabung
terbuka, diameter 2,5 cm, panjang 10-12 cm. Meluas dari larings sampai ke
puncak paru, tempat ia bercabang menjadi bronkus kiri dan kanan.
e. Bronkus Trakea
bercabang menjadi bronkus utama (primer) kiri dan kanan. Bronkus bercabang lagi
menjadi bronkiolus (bronkioli). Bronkiolus bercabang-cabang lagi menj adi
bronkiolus teruinalis dan bronkiolus espiratoarius.
f. Paru-paru
Terdiri dari
gelembung-gelembung alveoli yang terdiri dari epitel dan endotel (kurang lebih
700.000.000 buah) unit fungsional paru adalah alveoli yang dikelilingi kapiler
darah berkelompok mirip anggur. Paru-paru terbagi menjadi : paru-paru kanan (3
lobus) dan paru-paru kiri (2 lobus).Paru-paru dibungkus oleh selaput yang
disebut pleura. Pleura viseral langsung membungkus paru-paru, pleura parietal
melapisi rongga dada sebelah dalam.
2. Fisiologi Pernapasan
Pernapasan melalui paru-paru/eksterna, O2
diambil melalui mulut dan hidung pada waktu bernafas, dimana O2
masuk melalui trachea sampai alveoli berhubungan dengan darah dalam kapiler
pulmonal, alveoli memisahkan O2 dari darah, O2 menembus
membran, diambil oleh sel darah merah dibawa ke jantung dan dipompakan ke
seluruh tubuh.
Dalam paru paru CO2 hasil
buangan menembus membran alveoli dari kapiler darah di keluarkan melalui pipa
bronchus berakhir sampai mulut dan hidung.
a. Aktifitas pernapasan ada 4 :
(1) Ventilasi
(2) Difusi
(3) Transportasi
(4) Metabolisme jaringan
b. Fisiologi pernapasan
(1) Inspirasi : kontraksi pernapasan
peningkatan thorax
(ukuran)
Tekanan intra thorax
Ukuran paru – paru
Tekanan intra pulmonal
Tekanan udara
atmosfer + alveoli.
(2) Ekspirasi : relaksasi
otot pernafasan
Ukuran thorax
Tekanan intra thorax
Ukuran paru-paru
Tekanan intra
pulmonal
Tekanan atmosfer,
alveoli
C. Patofisiologi
1. Etiologi
a. factor genetic
b. biokimiawi
c. imunologis
d. infeksi saluran nafas
e. psikologi
f. lingkungan
g. obat-obatan tertentu
misalkan : aspirin
h. aktivitas fisik yang
berlebihan
Asma : alergan masuk maka
1.
Broncho konstruksi
2.
Inflamasi
3.
Hyper sekresi mulus
2. Proses terjadinya asma
·
Respon akut saluran pernapasan
terhadap masuknya antigen kontak dengan sel mast di dalam jalan nafas.
·
Mediator dilepaskan oleh sel
mast akan membuka ikatan antar sel antigen dan masuk lebih lanjut dalam
jaringan.
·
Antigen kontak dengan sel mast
pada lapisan mukosa dan sub mukosa sehingga mediator dilepaskan lebih banyak.
·
Mediator yang dilepaskan
menyebabkan :
- peningkatan
permeabilitass kapiler (edema)
- peningkatan mukus
- kontraksi otot secara
langsung
3. Manifestasi klinis :
Dibagi dalam 3
stadium :
a. Stadium I
Edema dinding bronkus,
batuk paroksimal, batuk kering, sputum kental dan menggumpal.
b. stadium II
sekresi bronkus
banyak, batuk berdahak jernih dan berbusa, sesak nafas, retraksi suprasternal,
epigastrium, anak membungkuk, gelisah, pucat, sianosis di sekitar mulut, toraks
membungkuk kedepan dan intercostal
c. stadium III
obstruksi bronkus
lebih berat, aliran udara sangat sedikit, batuk seperti ditekan, pemafasan
dangkal, frekwensi nafas meningkat.
D. Klasifikasi Asma
1. Jenis asma menurut penyebabnya
a. Asma alergik
Dikarenakan allergen
yang dikenal (misal : serbuk sari, binatang, emosi, makanan dan
jamur).kebanyakan allergen terdapat di udara dan musiman. Anak dengan asma
alergik sering dapat mengatasi kondisi sampai remaja.
b. Asma Idiopatik atau Non
alergi
Tidak berhubungan dengan
allergen spesifik. Faktor seperti comond cold, infeksi saluran nafas, latihan,
emosi dapat mencetuskan serangan asma idropatik atau non alergi.
c. Asma gabungan
Paling umum dengan
karakteristik dan batuk alergi maupun bentuk idiopatik.
2. Jenis asma menurut
serangannya
a. Asma episodik yang
jarang
(1) Terdapat pada anak usia
3-6 tahu
(2) Serangan dicetuskan
oleh penyakit ISPA
(3) Banyaknya serangan 3-4
kali batuk 10-14 hari
(4) Merupakan 70-75% dari,
populasi asma anak
b. Asma episode sering
(1) Terjadi setelah usia 3
tahun
(2) Serangan berhubungan
dengan ISPA
(3) Umurnya 5-6 tahun
terjadi infeksi tanpa serangan jelas
(4) Banyak serangan 3-4
kali setahun
(5) Paling tinggi terdapat
pada usia 8-13 tahun
(6) High fever ditemukan
dalam golongan ini
c. Asma kronik atau per sistem
(1) 25% serangan pertama
umur 6 bulan dan 75% umur 3 tahun
(2) Terdapat yang lama pada
2 tahun pertama
(3) Umur 5-6 tahun terjadi
obstruksi nafas yang per sistem, tiap hari.
(4) Perlu perawatan di R.S
3. Macam-macam pencetus
asma
a. allergen
Bila tingkat hyper
aktivitas bronkus tinggi, diperlukan jumlah allergen yang sedikit pada bayi dan
anak kecil berhubungan dengan isi debu rumah, misal : tungau, serpihan atau
bulu binatang, spora dan jamur.
b. Infeksi
(1) Virus repiratory systytral (URS) dan virus
para influenza
(2) Bakteri pertusis dan streptococcus
tetanemofikulus,
(3) Jamur : aspergilus, parasit, askartisis
c. Irritan
(1) Minyak wangi
(2) hair spray
(3) Udara Angin dan kering
(4) Asap rokok
d. Cuaca
(1) Perubahan suhu
(2) Kelembapan
(3) Angin
e. Kegiatan Jasmani
(1). Naik sepeda
(2). Berlari
f. ISPA
(1) Rhinitis alergi
(2) Sinusitis akut &
kronik
g. Psikis
Tidak boleh diabaikan
dan sangat kompleks
E. Komplikasi
1. Status asmatikus
2. Emfisema krpnic
3. Capumonal dan gagal
jantung kanan
4. Atelektasis
5. Pneumotoraks
6. Kematian, gagal
pernafasan
7. Bronchitis kronik,
bronkiolitis, pneumonia
8. Toraks membungkuk dan
memanjang
F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Test laboratorium
a. jumlah lekosit à meningkat pada infeksi
b. Analisa gas darah
(kasus berat)
c. Jumlah eosinofil à meningkat dalam darah dan sputum
2. Radiology
Ro thorox : melihat
infeksi atau penyebab lain yang memperburuk status pernafasan.
3. Test fungsi paru
Srometri : test
fungsi volume paru, volume tidak menurun, kapasitas vital menurun, kapasitas
bernafas bernafas maksimum juga menurun.
4. Test tuberculin
5. Test alergi
G. Penatalaksanaan Medis
1. Pengobatan
a. Bronkodilator à aderalin, salbutamol, theophylin, aminopilin, atronent.
b. Kortikosteroid à Prednison, oradexon, kenacort
c. expectoran &
antimucolitik à OBP, OBN, muropect,
d. Antibiotik
e. Imunotherapi à vitamin raboransia
2. Fisiotherapi à clapping & vibrasi
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ASMA
A. Pengkajian
1. Pernapasan
a. Nafas pendek
b. Ekspirasi-whizing
c. Retraksi
d. Nafas cuping hidung
e. Tachypnoe
f. Batuk kering
g. Ronchi
2. Cardiovascular à tachycardia
3. Neurologi : Cemas, kelelahan kurang tidur
4. Integument : cyanosis, pucat
B. Diagnosa keperawatan
1. Gangguan pertukaran gas
berhubungan dengan kontrisi dari bronkus.
Tujuan : Setelah
dilakukan tindakan keperawatan, pertukaran gas kembali adekuat
Kriteria hasil :
- Batuk berkurang
- Warna kulit kemerahan
- bunyi whizing berkurang sampai dengan hilang
- pengisian kapiler revil 3-5 detik
2. Bersihan jalan nafas
tidak efektif berhubungan dengan peningkatan mukus
Tujuan : Setelah
dilakukan tindakan keperawatan jalan nafas kembali efektif.
Kriteria Hasil :
- peningkatan mukus berkurang sampai hilang
- jalan nafas kembali efektif
- RR dalam batas normal
3. Kelelahan berhubungan
dengan hypoxia
Tujuan : Setelah
dilakukan tindak keperawatan kelelahan pada anak tampak berkurang.
Kriteria Hasil :
- tidak ada gejala stress pernapasan
- tidak ada gangguan tidur periodik
- meningkatnya aktivitas dan bertambahnya
aktivitas.
4. Kurangnya pengetahuan berhubungan
dengan perawatan di rumah
Tujuan : anak dan
orang tua dapat mengetahui tentang perawatan asma setelah di rumah.
Kriteria Hasil :
Perawatan di rumah dapat dilaksanakan sesuai instruksi
C. Intervensi
1. Diagnosa Keperawatan Nomor 1:
a. Ajarkan pada anak dan
orangtua untuk batuk efektif dan nafas dalam tiap dua jam.
b. berikan chest
fisioterapi 2x (pagi dan sore)
c. kaji frekuensi pernapasan
dan auskultasi suara nafas
d. berikan anaka posisi
yang nyaman seperti 1/2 duduk
e. hindarkan faktor alergi
dari ruangan anak
f. kolaborasi dengan
dokter untuk pemberian therapy bronchodilator dan steroid dan pemberian oksigen
sesuai kebutuhan.
2. Diagnosa Keperawatan
Nomor 2:
a. Berikan 02 dan kaji
respon di stress pernafasan terhadap oksigen.
b. Naikan bagian kepala
tempat tidur
c. Lakukan suntikan pada
anak sesuai kebutuhan untuk mengangkat mukus di saluran nafas.
d. jangan pernah
menggunakan sedative pada anak dengan asma dan gawat pernapasan
e. kolaborasi kaji respon
terhadap bronkodilator aerosol dan agens radang yang diberikan.
3. Diagnosa Keperawatan Nomor
3:
a. Kaji tanda-tanda
hypoxia termasuk peningkatan RR dan HR
b. Berikan O2
sesuai kebutuhan
c. Anjurkan pada
anak/keluarga untuk istirahat yang cukup
d. Berikan posisi supine
dengan kepala 450
4. Diagnosa Keperawatan
Nomor 4 :
a. Tingkatan pemahaman
tentang asma
b. Berikan instruksi yang
spesifik tentang pengobatan dan efek sampingnya.
c. Susun langkah-langkah
dalam menangani episode asma akut dan kapan harus mencari bantuan perawatan
medis darurat.
d. Identifikasi pemicu
asma dan bagaimana menghindarinya mengatasi atau mengendalikan.
e. Ajarkan anak bagaimana
memakai inhalasi
f. Beritahu pada orangtua
dan anak untuk menghindari pemberian anti histamin saat serangan.
Evaluasi
1. Pada diagnosa gas
berhubungan dengan kontriksi dari bronkus tujuan tercapai ditandai dengan
konstruksi dari bronkus.
Tujuan tercapai
ditandai dengan : tidak batuk, warna kulit kemerahan , tidak ada whizing,
refill kapiler 3-5 detik.
2. Bersihan jalan nafas
tidak efektif berhubungan dengan peningkatan mukus.
Tujuan tercapai
ditandai dengan : tidak ada peningkatan mukus, jalan nafas efektif, RR normal.
3. Kelelahan berhubungan
dengan hypoxia.
Tujuan tercapainya
ditandai dengan : tidak ada gejala distress pernapasan, tidak ada gangguan
tidur periodik, bertambahnya aktifitas.
4. Kurangnya pengetahuan
berhubungan dengan perawatan di rumah.
Tujuan tercapai, ditandai
dengan perawatan di rumah dapat dilaksanakan sesuai instruksi.
DAFTAR PUSTAKA
Speer, Katleen, M (1999) Pediatric Care Planning, Third Edition,
Pennysylvia ; Spring House.






0 komentar:
Posting Komentar